Mengenali Efektifitas Metode Pembelajaran Inklusif – Banyak dari kita sebagai seseorang yang pernah bersekolah baik swasta maupun negeri memiliki kendala tersendiri dalam proses pemahaman sgp prize mata pelajaran yang diajarkan oleh guru-guru kita di sekolah. Seperti keluhan, materi pelajaran yang berbelit-belit, guru yang terlalu tegas bahkan terkesan galak yang biasa disebut guru “killer”, atau metode pengajaran yang sangat membosankan sehingga kita sering tertidur saat pelajaran di kelas yang mengakibatkan kurangnya penyerapan ilmu. . . dari subjek ini.

Metode pembelajaran yang terkesan membosankan memang memberikan dampak yang cukup besar terhadap respon siswa yang sedang belajar, sehingga siswa kurang maksimal dalam memahami materi yang diberikan. Metode hafalan yang terlalu kuno misalnya kurang efektif bagi siswa zaman sekarang karena hafalan mudah terlupa jika kita tidak memahami materi yang diajarkan dengan baik.

Oleh karena itu, dunia pendidikan di Indonesia khususnya harus sangat berhati-hati untuk mengevaluasi kembali metode pengajaran yang lebih mudah dipahami siswa agar terjadi harmonisasi antara guru yang mengajar dan siswa yang diajar. Jika kita mengeluhkan sistem pendidikan yang bobrok tanpa diberi jalan keluar, seperti mengevaluasi metode pengajaran dalam pendidikan, maka hasilnya sama saja. Jangan berubah.

Saat ini, seiring dengan perkembangan zaman, muncullah metode pengajaran baru yang disebut dengan metode “inklusi”. Namun apa yang dimaksud dengan metode “inklusi”? dan bagaimana penerapannya dalam pendidikan? Mari simak penjelasan berikut ini.

Definisi Inklusi

Secara umum, kata penyertaan berasal gatot kaca slot dari kata “penyertaan” yang berarti mengajak atau menyertakan. Melihat dalam arti berarti menempatkan diri pada sudut pandang orang/kelompok lain untuk melihat apa yang ada disekitarnya, melihat alam semesta, singkatnya mencoba menggunakan sudut pandang orang atau kelompok lain untuk memahami suatu permasalahan. Kita hidup dalam masyarakat inklusif dan semua orang beradaptasi.

Selain itu, inklusi merupakan upaya untuk menyesuaikan diri dengan sudut pandang orang lain dalam melihat atau memahami suatu permasalahan. Inklusi juga bisa berarti mengajak atau menyertakan. Artinya, perilaku tersebut diperlukan dalam hubungan sosial.

Sejarah Metode Pendidikan Inklusif

Kelahiran pendidikan inklusif terjadi di negara-negara Skandinavia, yaitu Denmark, Swedia, dan Norwegia. Sekitar waktu ini, pada tahun 1960an, Presiden Amerika Serikat, J.F. Kennedy mengirimkan pakar pendidikan khusus ke Skandinavia untuk mempelajari lingkungan dan integrasi yang paling tidak membatasi yang telah terbukti dapat diterapkan di Amerika Serikat.

Kemudian pada tahun 1991, Inggris mulai memperkenalkan konsep pendidikan inklusi yang awalnya terpisah dari terintegrasi. Segregasi adalah pemisahan paksa antara kelompok ras atau etnis. Kebutuhan akan pendidikan inklusif di seluruh dunia semakin nyata sejak diadakannya konferensi dunia tentang hak-hak anak pada tahun 1989. Bahkan pada tahun 1991, di Bangkok, Thailand, kampanye “Education for All” berhasil diluncurkan. Konferensi dan kampanye ini mengikat seluruh anggotanya agar anak-anak tanpa terkecuali (termasuk anak berkebutuhan khusus) dapat memperoleh layanan pendidikan secara utuh dan tanpa diskriminasi.

Metode Pembelajaran Inklusif

Metode pembelajaran yang digunakan di sekolah inklusi umumnya sangat bervariasi dan kolaboratif. Artinya setiap langkah disesuaikan dengan kepribadian dan bakat masing-masing anak. Sementara di pendidikan umum, anak dituntut untuk menguasai semua mata pelajaran, sedangkan sekolah inklusi lebih fokus pada bakat terpendam anak. Dengan demikian, ada banyak jenis kegiatan yang dilakukan di sekolah inklusi.

Selain itu, sebagai orang tua juga harus mengetahui aspek-aspek penting sekolah dan cara kerja di sekolah inklusi. Aspek-aspek tersebut meliputi:

Kurikulum: Pelaksanaan kurikulum inklusi meliputi perencanaan, pengembangan, pelaksanaan, dan modifikasi PPI.

Pendidik: harus memahami cara menangani anak berkebutuhan khusus (ABK), termasuk keterampilan teknis dan kerjasama.

Manajemen: mengutamakan prinsip kebiasaan berdasarkan fakta, menghargai orang lain, perbaikan terus-menerus, dan melaksanakan tugas sesuai pembagian kerja.

Pendanaan : Hal lain yang cukup vital untuk menunjang kegiatan belajar mengajar agar dapat berjalan dengan baik.

Sarana dan prasarana: meliputi sarana dan prasarana yang memadai bagi anak normal dan anak berkebutuhan khusus.

Lingkungan: Diperlukan sosialisasi untuk membawa konsep sekolah ke masyarakat.